Site Loader
Get a Quote
Rock Street, San Francisco

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Peran orang tua dalam Islam adalah senantiasa membimbing danmengarahkan anak supaya berhasil dan sukses dunia akhirat. Namun, masih banyak orang tua yang belum tahu akan hal itu. Bimbingan dan arahan kepada anak dibutuhkan kehalian dan suatu metode, namun masih banyak orang tua saat ini yang belum mengerti dan paham atas metode-metode pendidikan agama Islam pada anak. Oleh karena itu, penulis tergugah untuk membuat suatu makalah yang berjudul Metode-metode Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga.

Rumusan Masalah
Bagaimana pengertian metode pendidikan menurut Islam ?
Bagaimana metode pendidikan agama Islam dalam keluarga ?
Tujuan
Memahami metode pendidikan menurut Islam
Melaksanakan metode pendidikan agama Islam dalm keluarga
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Metode Pendidikan
Ada beberapa istilah yang biasa dipakai oleh para ahli pendidikan islam yang berkaitan dengan pengertian metode, Namun yang paling populer dipakai dalam dunia pendidikan adalah istilah at-thariqah dengan bentuk jamak at-thuriq, yang mempunyai arti jalan atau cara yang harus ditempuh. Dalam proses pendidikan Islam, faktor metode merupakan faktor yang tidak boleh diabaikan, karena turut menentukan sukses atau tidaknya pencapaian tujuan pendidikan Islam. Hubungan antara metode dan tujuan pendidikan bisa dikatakan merupakan hubungan sebab-akibat. Artinya, jika metode pendidikan yang digunakan baik dan tepat, maka tujuan pendidikan besar kemungkinan akan dicapai. Nabi Saw. Bersabda:
“Bagi segala sesuatu itu ada metodenya, dan metode masuk surga adalah ilmu”. (HR. Dailami). (Ilyas,1997:31)
Dalam hadits ini Rasulullah menegaskan bahwa untuk mencapai sesuatu itu haruslah menggunakan metode atau cara yang harus ditempuh, termasuk keinginan masuk surga. Dalam hal ini, ilmu merupakan sarana atau metode untuk masuk surga.
Metode Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga
Pendidikan dalam keluarga menjadi suatu yang sangat penting bagi anak. Apalagi bagi orang tua yang ingin mencetak anaknya menjadi anak yang hebat dan unggul. Oleh karena itu setiap orang tua harus memahami dan menggunakan secara tepat berbagai metode mendidik anak.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Syarbini dan Gunawan menjelaskan bahwa ada beberapa metode yang bisa diterapkan dalam mendidik anak dalam keluarga, diantaranya adalah metode keteladanan, perhatian, kasih sayang, nasihat, curhat, pembiasaan, cerita dan kisah, penghargaan dan hukuman, serta melalui metode bermain (Syarbini dan Gunawan, 2014:203).

Metode keteladanan
“Tidak ada metode yang paling baik dalam mendidik anak, kecuali keteladanan. Satu kali keteladanan dari orang tua lebih baik dari 1000 perintah yang diberikan pada anak”(Syarbini dan Gunawan, 2014:204). Bukti keteladanan (mengajak dan memberikan contoh pada anak) itu jauh lebih baik dari pada sekedar perintah (tanpa ajakan dan contoh).

Metode keteladanan ini terindikasi dalam beberapa hadits Rasulullah Saw. hal ini menandakan bahwa Rasulullah memberikan perhatian lebih atas perilaku orang tua terhadap anak, terlebih dalam hal keteladanan. Muhammad Nur bin Abdul Hafidz Suwaidi mengutip beberapa hadits yang menerangkan keteladanan pada anak (suwaidi, 2000:90).

???? ???? ???? ????? ?????????? ??? ???? ???? ?? ???? ???? ??? ???? ???? ???? ? ?????? ???? ???? ????? ????????? : ??????? ?????? ????? ???? ????????? ?????? ????????
Ahmad telah mengeluarkan (meriwayatkan) sebuah hadits yang diterima dari Abu Hurairah ra., bahwa benar Rasulullah Saw. pernah bersabda : “Barang siapa yang memanggil analnya “Kemarilah, ini untukmu” (panggilan untuk memberi sesuatu), kemudian orang tersebut tidak memberikan sesuatu. Maka hal yang demikian merupakan sesuatu kebohongan (dosa)”.

???? ??? ???? ?? ??? ???? ?? ???? ???: “????? ??? ???? ????? ???? -??? ???? ???? ????- ????? ?? ?????? ?????: ???? ?????? ???? ??? -??? ???? ???? ????-: ( ?? ???? ?? ?????? ) ?????: ???? ?? ????? ????!!? ???? ???: ( ??? ??? ?? ?? ???? ????? ????? ???? ????).

Abu Daud telah meriwayatkan dari Abdullah bin Amir bahwa beliau (Abdullah bin Amir) berkata: “Suatu hari ibuku memanggilku, sedang Rasulullah Saw. tengah duduk di rumahku. Kemudian ibuku memanggilku “kemarilah ! aku akan memberikan sesuatu kepadamu”. Maka Rasulullah Saw. berkata kepada ibuku “apa yang akan kau berikan?”, Ibuku menjawab, “aku akan memberikannya kurma”. Rasulullah Saw. berkata kepada ibuku “Jika engkau tidak memberikannya sesuatu, maka akan dicatat untukmu suatu (dosa) kebohongan”.

Ada peribahasa yang mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Menurut ilmu kejiwaan, hal ini memag masuk akal. Murid atau anak akan meniru tingkah laku yang diajarkan guru atau orang tuanya. Pendidikan melalui keteladanan ini terbukti pada zaman Rasululloh. Dakwah Islam pada masa itu 75 % melalui keteladanan (Rosul mencontohkan) dan 25 % melalui ceramah. Namun, rupanya pada zaman sekarang ini terbalik. Pengajaran dilaksanakan 75 % ceramah dan 25 % (Hasyim, 143-145)
Pengetahuan, cara berpikir, dan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh aktivitas orang-orang disekitarnya. Mulai dari mereka melihat, mendengar, mengenal, sampai mempelajari segala tingkah lagu yang dilakukan oleh orang dewasa terkhusus orang tuanya sendiri. Kondisi demikian mengaharuskan orang tua untuk selalu berperilaku baik dan mengerjakan hal postisif dalam kehidupan sehari-hari, dengan kata lain orang tua harus bisa menjadi dan memberikan teladan bagi anak-anaknya (Syarbini dan Gunawan, 2014:203-204). Sehingga anak akan terbawa baik dan ikut melaksanakan hal positif yang dilakukan oleh orang tuanya yang kemudian hari diharapkan hal itu menjadi sebuah kebiasaan bagi anak.

Perilaku seorang anak sering sekali dipengaruhi oleh peniruan mereka terhadap kebiasaan-kebiasan yang rutin dilakukan di dalam keluarga. Shalat dan baca Quran misalnya, mereka lakukan sebagai hasil dari pengamatan dan perhatian mereka terhadap orang tuanya, walaupun mereka tidak melakukan hal itu secara sempurna. Sesuai dengan Syarbini dan Gunawan (2014:204) yang menyatakan bahwa “dalam kehidupan sehari-hari perilaku yang dilakukan anak-anak pada dasarnya lebih banyak mereka peroleh dari meniru”.

Semua orang tua sejatinya mendambakan seorang anak shaleh yang kelak akan mendampingi dan membantunya hingga akhir hayat. jika kita menginginkan anaknya menjadi seoarang yang taat beragama, maka hendaklah kita sendiri taat melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana dalam Quran surat Al-Ahzab ayat 21 Allah Swt. memerintahkan kita sebagai muslim untuk senantiasa meneladani sikap dan perilaku Rasul dalam setiap sisi kehidupan kita.
?????? ????? ?????? ??? ??????? ??????? ???????? ???????? ??????? ????? ???????? ??????? ??????????? ???????? ???????? ??????? ????????(??)
Artinya : Sungguh, telah ada pada (diri) Rasululloh itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. (Departemen Agama RI, 2011:420)
Oleh sebab itu, maka sejatinya sebagai orang tua harus memiliki semngat transformasi ilmu sekaligus transformasi nilai. Jika saja tidak seimbang, maka mereka hanya akan bermain dalam dimensi intelektual anak dan mengabaikan dimensi emosinal dan etikanya (Syarbini dan Gunawan, 2014:207)
Metode perhatian
“Perhatian tulus yang diberikan orang tua kepada anaknya ibarat air hujan yang memadamkan kobaran api” (Syarbini dan Gunawan, 2014:208). Hal ini dimaksud bahwa salah satu peran orang tua bagi anaknya adalah selalu memperhatikan kondisi psikologi dan sosial anak. Ketika anak beranjak dewasa, mereka akan bergelut dengan kehidupan sosialnya baik di sekolah maupun masyarakat. Oleh karena itu, perhatian atas mental dan emosional anak sangat penting bagi orang tua untuk mengatasi terjadinya stres pada anak.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya stres pada anak, diantaranya ialah kehidupan di sekolah, keadaan fisik anak, kondisi keluarga, persoalan cinta atau kisah asmara (Syarbini dan Gunawan 2014:208-209). Beberapa faktor tersebut sangat melekat pada kehidupan anak, disinilah peran oran tua untuk selalu memperhatikan anaknya sekaligus memperhatikan dimana anak akan diposisikan.
Peran orang tua untuk selalu memperhatikan kehidupan anak ini terkandung dalam Firman Allah Swt. tepatnya pada QS. At-Tahrim ayat 6 berikut ini :
??? ???????? ????????? ??????? ???? ???????????? ????????????? ??????….

Berkaitan dengan ayat ini, Qatadah menjelaskan bahwa perintahkanlah mereka (keluargamu) supaya taat kepada (perintah) Allah dan laranglah mereka dari berbuat maksiat terhadap Allah. Tegakkan dan anjurkanlah perintah Allah (wajib) atas mereka serta bantulah mereka mengerjakannya (Ismail Ibn Katsir 2004:106 juz8)
Selanjutnya, Syarbini (2014:211) menjelaskan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua terhadap anaknya. Demikian rinciannya :
Menanamkan akidah yang kuat serta pembinaan prinsip-prinsip tauhid sebagai fondasi iman bagi anak;
Memperhatikan moral atau akhlak terpuji;
Memperhatikan mental anak dengan membentengi mereka dari hal-hal yang merugikan;
Memperhatikan sisi kejiwaan yang dialaminya, sepertihalnya mencari sebab kenapa dia marah atau pendiam;
Memperhatikan segi spiritual, supaya anak memiliki sifat khusyu dalam beribadah;
Memperhatikan jasmani anak yang diwujudkan dengan memberi makan halal dan baik, membiasakan olah raga, menciptakan rumah yang sehat dan bersih;
Memperhatikan segi sosial anak dengan mengajarkannya memnuhi hak orang lain atasnya;
Memperhatikan segi intelektual anak dengan memupuk daya ilmiahnya, melatih dan membimbing dengan sepenuh hati.

Metode kasih sayang
“Kecintaan pada anak-anak merupakan dasar ajaran Islam. Nabi Muhammad Saw., sangat mencintai anak-anak dan berbuat baik kepada mereka. Beliau bersabda: “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka”. Maka, orang tua harus menunjukan ketulusan cintanya kepada anaknya, sehingga anak tersebut akan membalas positif sikap demikian”. (Syarbini dan Gunawan, 2014:214).

Rasululloh Saw. pernah bersabda ” ?? ?????? ??????” yang artinya barang siapa tidak menyayangi maka tidak akan disayangi (Lihat Shahih Bukhari kitab Al-Adab). Kaitannya dengan metode kasih sayang ini adalah jika orang tua tidak menyayangi anaknya maka kemungkinan besar kelak anaknya tidak akan menyayanginya. Sungguh metode kasih sayang ini sangat efektif dan memberikan kesan mulia sehingga anak termotivasi. Orang tua harus bisa bersahabat dengan anak dan menciptakan hubungan yang penuh kasih dan komunikasi yang baik dengan anak. Melalui cinta kasih, anak bisa menerima nasihat-nasihat yang diberikan orang tuanya.

Perhatikan kisah dibawah ini !.

Dalam sebuah kisah diceritakan, Rasulullah bertanya, “Ummi Fadl, bolehkah saya menggendong anakmu?”. Ummu Fadl langsung menjawab, “Ya Rasulullah saya sangat khawatir, takut anak saya pipis”. “Tidak apa-apa Ummu Fadl, saya sangat senang sekali pada anakmu, ia sangat lucu,” sahut Rasulullah. Lalu, Rasulullah menggendong anak itu. Benar saja, ketika digendong, anak itu buang air kecil dan mengenai jubah Rasulullah. Ummu Fadl langsung memarahi anaknya dengan kasar dan memukul pantatnya. Melihat itu, Rasul marah, “Wahai Ummu Fadl, apakah kamu tahu apa yang kamu lakukan? begitu sampai di rumah, baju ini akan saya cuci. Baju saya akan suci dan bersih kembali. Namun luka jiwa yang ada dalam jiwa anakmu akan membekas sampai ia dewasa. Anakmu akan rendah diri.” Itulah sikap Rasulullah yang sangat memperhatikan aspek kejiwaan anak-anak. Para orang tua dianjurkan untuk bersikap lemah lembut dan kasih sayang kepada anak-anak agar ia tidak merasa tertekan dan ketakutan. (lihat Syarbini dan Gunawan, 2014:215)
Kisah di atas menunjukan bahwa kasih sayang orang tua terhadap anak akan berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan anak serta berpengaruh terhadap masa depan anak berkaitan dengan sikap timbal balik kepada orang tua.

Kasih sayang seorang tua tidak hanya melalui perbuatannya. Perkataan yang diucapkan orang tua terhadap anak hendaknya menggunakan kata-kata yang baik. Terutama, orang tua tidak boleh mencela-cela kesalhan anaknya apalagi dengan menggunakan kata kotor. Muhammad Nur menegaskan bahwa janganlah orang tua memaki dan menghina anaknya. Karena sesungguhnya jika ia menghina anaknya sama saja ia menghina dirinya sendiri (Suwaidi, 2000:108)
Metode nasihat
“Nasihat dapat dijadikan salah satu cara untuk membangun karakter anak dengan catatan nasihat diberikan dalam waktu yang tepat dan tidak dalam keadaan marah”(Syarbini dan Gunawan 2014:224).
Muhammad Nur Suwaidi menegaskan bahwa “??? ?????? ???? ?????” , hati itu sifatnya menerima dan mengatur. Jika orang tua mampu untuk memberikan arahan (nasihat) kepada (hati) anaknya, niscaya (hati) anaknya itu akan mendapatkan kemenangan yang besar karena mengamalkan arahan-arahan itu (Suwaidi, 2000:91).
Peran orang tua sebagai penasihat sangatlah penting dalam Islam. Al-Quran yang menjadi sumber pokok ajaran Islam banyak dan sering sekali menggunakan metode nasihat dalam menyampaikan ajarannya. Abuddin Nata sebagaimana dikutip oleh Syarbini dan Gunawan mengungkapkan bahwa al-Quran secara eksplisit menggunakan metode nasihat sebagai salah satu cara untuk menyampaikan suatu ajaran. Terbukti bahwa al-Quran berbicara mengenai nasihat, penasihat, obyek nasihat, sampai menerangkan tetang situasi dan kondisi penyampaian nasihat tersebut (Syarbini dan Gunawan, 2014:225).

Sesuai yang dicontohkan Rasulullah, menurut Muhammad Nur bin Abdullah Hafidz Suwaidi hendaknya nasihat dilakukan dalam situasi dan kondisi sebagai berikut (Suwaidi, 2000:91).
Ketika melakukan perjalanan baik jalan kaki atau berkenda;
Ketika sedang makan bersama;
Ketika anak sedang sakit;
Nasihat-nasihat yang baik akan senantiasa membangun jiwa anak menuju akhlak yang baik. Lantas, nasihat yang bagaimana yang perlu disampaikan kepada anak?. Al-Quran senantiasa memberikan petunjuk bagi seorang guru atau orang tua mengenai nasihat-nasihat tersebut. Kisah Luqman yang menggambarkan seorang ayah yang baik bagi anaknya dengan memberikan nasihat-nasihat baik telah tersurat dan tersirat dalam al-Quran. Adapun nasihat-nasihat Luqman pada anaknya ialah sebagai berikut: (lihat Umar Hasyim “cara mendidik anak dalam isla” h. 143-145)
Hai anakku: ketahuilah, sesungguhnya dunia ini bagaikan lautan yang dalam, banyak manusia yang karam ke dalamnya. Bila engkau ingin selamat, agar jangan karam, layarilah lautan itu dengan sampan yang bernama taqwa, isinya ialah iman dan layarnya ialah tawakkal kepada Allah.

Orang-orang yang senantiasa menyediakan dirinya untuk menerima nasehat, maka dirinya akan mendapat penjagaan dari Allah. orang ynag insyaf dan sadar setelah menerima nasihat orang lain, dia akan senantiasa menerima kemuliaan dari Allah juga.

Hai anakku: orang yang merasa dirinya hina dan rendah di dalam beribadah dan taat kepada Allah, makanya dia tawadhu kepada-Nya, dia akan lebih dekat kepada Allah dan selalu berusaha menghindarkan maksiat kepada-Nya.

Hai anakku: seandainya orang tuamu marah kepadamu (karena kesalahanmu), maka marahnya orang tua itu adalah bagaikan pupuk bagi tanam tanaman
Jauhkanlah dirimu berhutang, karena sesungguhnya berhutang itu bisa menjadikan dirimu hina diwaktu siang dan gelisah di waktu malam.

Selalulah berharap kepada Allah tentang sesuatu yang menyebabkan untuk tidak mendurhakai Allah. Takutlah kepada Allah dengan sebenar takut, tentulah engkau akan terlepas dari sifat keputusasaan dari rahmat-Nya.

Hai anakku: seorang pendusta akan lekas hilang air mukanya karena tidak dipercayai orang, dan seorang yang telah bejat akhlaknya akan senantiasa banyak melamunkan hal hal yang tidak benar. Ketahuilah, memindahkan batu besar dari tempatnya semula itu lebih mudah dari pada memberi pengertian kepada orang yang tidak mau mengerti.

Hai anakku: engkau telah merasakan betapa beratnya mengangkat batu besar dan besi yang amat berat, tetapi akan lebih berat lagi dari pada itu semua, adalah bilamana engkau mempunyai tetangga yang jahat.

Hai anakku: janganlah sekali kali engkau mengirimkan seseorang yang bodoh menjadi utusan. Maka bila tidak ada orang yang cerdas dan pintar, sebaiknya dirimu sendiri sajalah yang menjadi utusan.

Jauhilah bersifat dusta, sebab berdusta itu enak sekali mengerjakannya, bagaikan memakan daging burung, padahal sedikit saja berdusta itu telah memberikan akibat yang berbahaya.

Hai anakku: bila engkau menghadapi dua alternatif, menjenguk (ta’ziyah) orang mati ataukah menghadiri pesta perkawinan, maka hendaklah engkau memilih untuk melayat orang mati. Sebab melayat orang mati itu akan mengingatkanmu kepada kampung akhirat, sedangkan menghadiri pesta pernikahan itu hanya mengingatkan dirimu kepada kesenangan duniawi saja.

Janganlah engkau makan sampai kenyang yang berlebihan, karena sesungguhnya makan yang terlalu kenyang itu alangkah lebih baiknya bila makanan itu diberikan kepada anjing saja.

Hai anakku: janganlah engkau langsung menelan saja karena manisnya barang dan jangan langsung memuntahkan saja pahitnya barang. Karena yang manis itu belum tentu menimbulkan kesegaran, dan yang pahit itu belum tentu menimbulkan kegetiran.

Makanlah makananmu bersama-sama dengan orang orang yang taqwa dan musyawarahkanlah urusanmu dengan para alim ulama dengan cara memohon nasihat kepadanya.

Hai anakku: bukanlah suatu kebaikan namanya bilamana engkau selalu mencari ilmu tetapi engkau tidak pernah mengamalkannya. Hal itu tak ubahnya bagaikan seorang yang mencari kayu bakar, setelah banyak terkumpul maka ia tidak kuat memikulnya padahal ia masih selalu menambahkannya jua.

Hai anakku: bila engkau ingin menemukan kawan sejati, maka ujilah terlebih dahulu dengan berpura-pura membikin dia marah. Bilamana di dalam kemarahannya itu dia masih berusaha mengisnyafkan atau menyadarkan kamu, maka bolehlah dia engkau ambil menjadi kawan. Bila tidak demikian, maka berhati hatilah engkau terhadapnya.

Selalulah baik tutur katamu dan halus budi bahasamu serta manis wajahmu, karena engkau akan disukai orang melebihi sukanya seseorang terhadap orang lain yang pernah memberikan barang yang berharga.

Hai anakku: bila engkau berteman, tempatkanlah dirimu padanya sebagai orang yang tidak mengharapkan sesuatu dari padanya, namun biarkanlah dia yang mengharapkan sesuatu darimu.

Jadikanlah dirimu dalam segala perilakumu sebagai orang yang tidak ingin menerima pujian atau mengharapkan sanjungan orang lain, karena motivasi riya itu menimbulkan cela.

Hai anakku: usahakanlah agar mulutmu jangan mengeluarkan kata kata yang busuk dan kotor serta kasar, karena engkau akan lebih selamat bila berdiam diri. Kalau berbicara, usahakanlah agar bicaramu mendatangkan ke manfaatan bagi orang lain.

Hai anakku: janganlah engaku condong kepada urusan dunia dan hatimu selalu direpotkan dunia saja karena engkau diciptakanlah Allah bukanlah untuk dunia saja. Sesungguhnya tidak ada makhluk yang lebih hina dari pada orang yang terpedaya oleh dunia.

Hai anakku: janganlah engkau mudah tertawa kalau bukan karena sesuatu yang menggelikan engkau berjalan tanpa tujuan pasti, janganlah engkau menanyakan sesuatu yang tidak ada gunanya bagimu, janganlah menyia nyiakan hartamu.

Barang siapa yang penyayang tentu akan disayang, siapa pendiam akan selamat dari pada berkata yang mengandung racun, dan barang siapa yang tidak bisa menahan lidahnya dari berkata kotor tentulah akan menyesal.

Hai anakku: bergaulah rapat engkau dengan orang alim dan orang berilmu. Perhatikanlah kata dan nasehatnya karena sesungguhnya sejuklah hati ini mendengarkan nasehatnya, hiduplah hati ini dengan cahaya hikmah dari mutiara kata-katanya bagaikan tanah yang subur tersiram air hujan.

Hai anakku, ambillah harta dunia sekedar keperluanmu, dan nafkahkanlah yang selebihnya untuk bekal akhiratmu. Jangan engkau tendang dunia ini ke keranjang sampah karena nanti engkau akan menjadi pengemis yang membuat beban orang lain. Sebaliknya jangan engkau peluk dunia ini serta mereguk habis airnya karena sesungguhnya yang engkau makan dan pakai itu adalah tanah belaka. Janganlah engkau berteman dengan orang pandir dan jangan pula berteman dengan orang yang bermuka dua, karena akan membahayakanmu.

Metode curhat
“Meskipun secara posisi orang tua lebih tinggi dari anak, hendaklah sesekali orang tua mengalah dan mau mendengarkan keluhan anak. Jadilah teman curhat yang baik buat anak kita” (Syarbini dan Gunawan, 2014:229). Bagaimana kita tahu dan memberi solusi terhadap keluh kesah anak jika kita sendiri ach terhadap mereka.
Mahmud mengungkapkan metode ini sebagai metode hiwar (percakapan) yaitu melalui dialog antara dua belah pihak mengenai topik tertentu dan diarahkan kepada suatu tujuan yang diinginkan secara sengaja (Mahmud, 2013:158). Terjadinya percakapan atau curhat diantara kedua belah pihak (orang tua dan anak) akan memberikan manfaat terhadap keduanya. Anak akan mendapatkan nasihat dan orang tua tahu akan permasalah yag dihadapi anak.

Metode curhat atau percakapan ini pernah pula dilakukan oleh Rasulullah Saw. terhadap seorang pemuda yang ingin melakukan perbuatan zina. Mari kita perhatikan percakapan Rasulullah Saw. dengan seorang pemuda berikut ini.

Sebuah hadits dari ahmad menceritakan ada seorang pemuda mendatangi Rasul seraya berkata : “Wahai Rasul, izinkanlah aku berzina”. Ketika itu sontak semua orang berkata “celakalah engkau !! celakalah engkau !!”. Rasulullah mendatangi pemuda itu dan duduk disampingnya. Kemudian terjadilah dialog (tanya jawab) antara Rasul dan pemuda itu:
Rasul Saw: “apakah engkau ingin hal itu (zina) terjadi pada ibumu?
Pemuda: “tidak ya Rasul, Demi Allah”
Rasul Saw: “demikian orang lain, mereka tidak ingin hal itu terjadi pada ibu mereka”. Kemudian Rasulullah memegang dada pemuda itu dan mendoakannya. Setelah peristiwa ini pula pemuda itupun menjadi orang yang arif. (Syarbini, 2014:227).

Kisah yang digambarkan di atas mengindikasikan bahwa Rasulullah Saw. memberikan pelajaran mendidik seorang anak dengan mulia dan dilakukan secara dialog yang dapat menggugah hati seoarang anak hingga ia sadar.

Metode pembiasaan
Seorang filsuf yang bernama Charles Reade, berkata: sow a thought and you reap a habit, sow a habit and you reap a character, sow a character and you reap a destiny.” yang dapat diartikan, (bila kita telah yakin akan sesuatu pandangan atau pikiran), tanamkanlah buah pikiran itu dalam suatu perbuatan, nanti anda akan menuai (mendapatkan hasil) yang bernama tingkah laku. Tanamkanlah (ulang-ulangilah) tingkah laku itu, nanti anda akan mendapatkan suatu kebiasaan. Tanamkanlah (ulang ulangilah) kebiasaan itu, nanti anda akan mendapatkan suatu watak, dan tanamkanlah watak itu, nanti anda akan mendapatkan nasib( akibat baik atau buruk).(lihat Umar Hasyim “cara mendidik anak dalam islam” h.160).

Pendidikan terhadap anak tidak cukup dengan hanya memberikan pengetahuan atau keyakinan saja. Orang tua dituntun untuk bisa menjadikan pengetahuan dan keyakinan yang dimiliki anak menjadi suatu amalan atau kebiasaan. Sepertihalnya dengan keimana, Yusuf Qardawy menjelaskan bahwa iman tidak hanya sebatas ucapan, semboyan yang dipertahankan, tetapi iman ialah suatu hakikat yang meresap kedalam jiwa, menggugah kemauan dan dibuktikan oleh perbuatan (Qardawy, 1992:9).
Segala sesuatu yang kita perbuat dengan rutin akan menjadi suatu pembiasaan, dan pembiasaan itu akan menjadi watak atau karakter. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Syarbini: “hati-hati dengan perkataan kita karena ia akan menjadi perbuatan kita, hati-hati dengan perbuatan kita karena ia akan menjadi kebiasaan kita, hati-hati dengan kebiasaan kita karena ia akan menentukan masa depan kita”. (Syarbini 2014:234).

Menurut Ahmad Tafsir sebagaimana yang dikutip oleh Mahmud menjelaskan bahwa metode pembiasaan ini sangat cocok untuk hafalan-hafalan. Sepertihalnya Rasulullah sering memabcakan doa-doa didepan para sahabatnya sehingga mereka hafal (Mahmud, 2013:162). Jadi, pembiasaan positif yang diterapkan anak akan menjadi suatu karakter yang tertanam pada diri anak dan terus akan diulang-ulang oleh anak.

Metode cerita atau kisah
“Hendaklah seorang dai (guru atau orang tua) untuk memperhatikan kisah-kisah yang ada pada al-Quran yang mengandung pelajaran, nasihat, rahasia, dan hikmah yang penting” (Qardawi, 1986:20). Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam surat Yusuf ayat 111: “Sungguh pada kisah-kisah mereka (yang terkandung dalam al-Quran) itu ada suatu pelajaran bagi orang-orang yang berakal”.

Menurut Abdul Aziz Majid sebagaimana dikutip oleh Syarbini menjelaskan bahwa tujuan metode cerita dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
Menghibur perasaan dan jiwa serta menyenangkan mereka dengan bercerita baik;
Membantu pengetahuan secara umum;
Mengembangkan imajinasi;
Mendidik akhlak;
Mengasah rasa.

Cerita atau kisah yang diberikan anak tentunya tidak boleh sembarangan. Oran tua harus bisa memilih dan memilah cerita-cerita yang mempunyai aspek-aspek tertentu yang berguna dan cocok bagi anak. Aspek-aspek tersebut meliputi Aspek religius, pedagogis, dan psikologis (Syarbini dan Gunawan 2014:236-239)
Metode penghargaan dan hukuman
“Manusia hakikatnya menginginkan kesenangan dan keselamatan, bukan menginginkan kesusahan atau kesengsaraan” (Mahmud, 2013:163). Oleh karean itu sesuai yang ditegaskan oleh Syarbini bahwa kita harus mendahulukan pujian dari pada hukuman (Syarbini dan Gunawan, 2014:256).

Al-Quran dan hadits menggunakn beberapa istilah yang berkaitan dengan penghargaan dan hukuman ini. Seperti pengharagaan dengan kata targhib dan hukuman dengan kata tarhib (Syarbini dan Gunawan, 2014:244). Hal ini mengindikasikan bahwa kehidupan ini ada timbal balik atau akibatnya. Begitupun kepada seorang anak, orang tua harus mengajarkan hukum sebab akibat kepada anak. Hal ini diharapkan anak tau bahwa pekerjaan baik akan mendapatkan hasil yang baik dan perbuatan buruk akan berakibat buruk juga.

Selanjutnya Syarbini menjelaskan beberapa bentuk pengharagaan terhadap anak sesuai dengan ajaran Islam. Menurutnya, ada berbagai tekhnik pemberian penghargaan pada anak, diantaranya:
Dengan kata pujian, hal ini dilakukan sewajarnya saja tidak berlebihan. Seperti kata “bagus” atau “hebat”;
Memberikan sesuatu materi (berupa hadiah yang bermanfaat dan menyenangkan anak);
Memberikan senyuman atau tepukan;
Memberikan do’a
Menunjukan kebaikannya, seperti menepuk bahunya.

Menganggap diri kita bagian dari mereka. (Syarbini, 2014:246-248)
Sedangkan untuk hukuman sendiri, Syarbini mengungkapkan bentuk-bentuknya sebagai berikut:
Melalui teguran langsung, seperti menegurnya Rasulullah Saw. kepada Umar bin Abi Salamah ra. saat makan
Melalui pukulan, seperti yang tergambar dalam hadits berikut:
Dari umar bin Syu’aib dari kakeknya disebutkan, Rasulullah SAW. Pernah berdabda:
???????????????????? ?????????????????? ????????? ?????? ???????? , ???????????????? ????????? ?????? ????????? ??????,???????????? ?????????? ??? ???????????? . (??? ?????????????)
“Perintahkan anak – anakmu mengerjakan shalat dari usia tujuh tahun, dan pukulah mereka kalau enggan mengerjakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan mereka dari tempat tidur ( Antara anak laki – laki dengan anak perempuan). (HR. Abu Daud dan Hakim)
Perhatikan kriteria pukulan dan alat pukul dibawah ini (Al-Amir, 1990:41)
Pemukulan tidak boleh berpusat, harus berpindah – pindah .

Dianjurkan pukulan yang kedua harus lebih ringan dari pukulan yang pertama.
Alat pukul harus berpindah – pindah dari anggota tubuuh anak yang satu ke anggota tubuh yang lain, seorang pendidik dianjurkan mengangkat lengannya sampai ketiaknya terlihat. Perlu diingat: mengangkat lengan bukan berarti menambah pukulan lebih keras.

Alat pukul yang digunakan tidak boleh berupa kawat, besi yang berakibat buruk terhadap orang yang dipukul.

Lebih baik jika dilakukan tidak terlalu keras dan tidak menyakitkan. Utamakan alat pukul yang lentur. Apabila alat yang digunakan keras, sang anak akan sangat kesakitan, ditambah lagi dengan kemungkinan rusaknya jemari-jemari pendidik. Selain itu alat pukul yang diharapkan tidak terlalu panjang.
Metode bermain
“Dunia anak adalah dunia bermain”, begitulan yang diungkapkan oleh ahli pendidikan dan psikologi. Hal ini mengindikasikan bahwa dengan bermain anak akan terpacu untuk belajar dan dengan bermain orang tua akan menemukan bakat-bakat anak (Syarbini, 2014:257)
Selanjutnya Syarbini menjelaskan berbagai kegiatan metode bermain ini, diantaranya:
Bermain fungsional atau sensori motor, dimana anak dibiarkan melalui panca indranya belajar mengenai berbagai hal dalam alat permainan;
Bermain peran atau simbolik, pura-pura, pantasi, imajinasi, atau bermain drama;
Bermain konstruktif yang dilakukan dengan membuat sebuah karya dari bahan-bahan tertentu.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ada beberapa istilah yang biasa dipakai oleh para ahli pendidikan islam yang berkaitan dengan pengertian metode, Namun yang paling populer dipakai dalam dunia pendidikan adalah istilah at-thariqah dengan bentuk jamak at-thuriq, yang mempunyai arti jalan atau cara yang harus ditempuh.

Beberapa metode PAI dalam keluarga yang dapat dilaksanakan adalah metode keteladanan, perhatian, kasih sayang, nasihat, curhat, pembiasaan, cerita dan kisah, penghargaan dan hukuman, serta melalui metode bermain.

Saran
Mengingat makalah ini dibuat dengan sepenuh hati, maka penulis mengharapkan keihklasan hati pembaca terutama dosen pembimbing agar senantiasa memberikan arahan untuk kebaikan selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ismail ibn Katsir, 2004, Tafsir al-Quran al-Adzim, Kairo: Maktabah Shafa
Mahmud dkk, 2013, PAI dalam Keluarga, Jakarta: akademia
Majid Abdul, 2012. Belajar dan Pembelajaran, Bandung: Rosda,
Muhammad Nur bin Abdul Hafidz Suwaidi, Minhaj at-Tarbiyah Islamiyah Littipli, Makkah: Daar at-Taibah.

Najib Khalid Al’Amir,1990, Min asaalibir-Rasul SAW Fit-Tarbiyah, Kuwait: Maktabah Albusyrah Al-Islamiyyah
Slameto, 2003. Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Syarbini dan Gunawan, 2014, Mencetak anak Hebat,Jakarta:Gramedia
Yusuf Qardawi, 1987, Tsaqafah daiyyah, Kairo: Maktabah wahbah
Yusuf Qardawi, 1992, Tarbiyah Islamiyah, Kairo: Maktabah wahbah

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Victoria

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out
x

Hi!
I'm Jeremy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out