Site Loader
Get a Quote
Rock Street, San Francisco

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

1

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

ANALISIS LEARNING OBSTACLES DALAM PEMBELAJARAN
PEMECAHAN MASALAH PENJUMLAHAN PECAHAN
PADA SISWA KELAS IV SD

Sukirno
Dini Ramadhani
PGSD Universitas Samudra
[email protected]

ABSRAKSI
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui learning obstacles (kesulitan belajar) pada
pembelajaran penjumlahan pecahan. Jenis Penelitian ini yaitu kualitatif deskriptif. Teknik
pengumpulan data yang digunakan yaitu tes, angket, wawancara, observasi dan
dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa analisis learning
obtacles pada faktor hambatan ontogeni, yaitu belum adanya koneksi antara kesiapan
mental mereka dengan materi yang mereka pelajari dan sulitnya beberapa orang siswa
untuk berkonsentrasi. Pada faktor hambatan didaktik yaitu guru kurang mampu
mengelola waktu, tidak menyediakan LKS, minimnya ragam masalah, dan tidak
terlaksananya semua langkah yang ada di RPP. Pada hambatan epistimologi yaitu
kesalahan dalam menentukan pecahan yang senilai dengan satu, kesalahan dalam mencari
pecahan senilai, kesalahan yang paling banyak dilakukan siswa dalam penguasaan prinsip
adalah tidak mengetahui cara menyelesaikan soal dengan benar dan tepat, tidak mampu
memahami masalah yang diberikan, dan tidak menggunakan penyelesaian yang baik.

Kata kunci : learning obstacles, pemecahan masalah, penjumlahan pecahan

PENDAHULUAN
Matematika merupakan pelajaran
yang sangat dibutuhkan oleh siswa untuk
memecahkan masalah sehari-hari.
Kemampuan pemecahan masalah ini
ditandai dengan kemampuan siswa dalam
menafsirkan masalah, merencanakan
strategi sebagai solusi, implementasi
strategi dan memeriksa kembali jawaban.
Pembelajaran pemecahan masalah
matematis ini diwujudkan pemerintah
dengan pada kurikulum yang baru yaitu
kurikulum 2013 yaitu dengan memulai
pembelajaran yang didahului dengan
pemberian masalah yang kontekstual
yang berasal di lingkungan sehari-hari
siswa. Siswa diberikan kesempatan
menyelesaikan masalah dengan cara
mereka sendiri terlebih dahulu. Sehingga
dengan pemberian masalah dapat
merangsang keingintahuan dan
kreativitas siswa dalam berpikir
matematis.
Pada observasi yang penulis lakukan
pada salah satu sekolah dasar yang telah
menggunakan Kurikulum 2013 yakni di
kelas IV yang sedang belajar matematika
yang menuntut memecahkan suatu
masalah. Pembelajaran berlangsung di
kelas dengan dipandu buku siswa dan
buku guru dengan subtema 3 Ayo Cintai
Lingkungan pada Pembelajaran 2. Di
dalam buku guru sudah tertera masalah
yang harus dipecahkan oleh siswa
mengenai penjumlahan pecahan.
77

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

78

Kenyataan siswa mengalami kesulitan
dalam memahami konsep operasi
penjumlah pecahan ini. Pemberian
masalah operasi penjumlahan pecahan ini
yaitu bagaimana cara menemukan nilai 1
yang diperoleh dari menjumlahkan
berbagai jenis pecahan. Namun, saat guru
masih banyak siswa yang binggung untuk
menentukan pecahan yang dapat
memenuhi persyaratan tersebut.
Akhirnya, banyak intervensi guru dalam
membantu siswa dalam menemukannya
dengan memberikan langkah-langkah
atau cara mencari pecahan senilai.
Sehingga tujuan pemberian masalah
matematis siswa untuk menemukan
sendiri jawabannya belum bisa terwujud.
Dalam menggunakan metode
penelitian deskriptif, artikel ini mencoba
untuk mengetahui dan mendeskripsikan
learning obstacle dalam pembelajaran
pemecahan masalah operasi penjumlahan
pecahan pada siswa kelas IV SD.

PEMBAHASAN
Learning Obstacles
Dalam proses perkembangan
pengetahuan, seorang individu seringkali
mengalami kendala, atau hambatan.
Cornu (1991) membedakan antara empat
jenis hambatan (obstacles), yaitu :
hambatan kognitif (cognitive obstacles),
hambatan genetis dan psikologis,
hambatan didaktis dan hambatan
epistemologi.
Menurut Cornu, hambatan kognitif
terjadi ketika siswa mengalami kesulitan
dalam proses belajar. Hambatan genetis
dan psikologis terjadi sebagai akibat dari
perkembangan pribadi siswa. Hambatan
didaktis terjadi karena sifat pengajaran
dari guru, dan hambatan epistemologi
terjadi karena sifat konsep matematika
sendiri.
Penjelasan kendala atau obstacles
menurut Cornu tampaknya memberikan
kesan bahwa ada perbedaan yang jelas
antara berbagai kendala tersebut. Namun
demikian pada dasarnya dalam
pembentukan sebuah pengetahuan terjadi
sangat kompleks, melalui sistem
interaksi. Salah satu subsistem tersebut
terdiri dari guru, siswa, dan sistem
pengetahuan (Brousseau, 1997). Ketika
seorang pelajar menemukan kendala
dalam pengalaman belajarnya, dapat
dimungkinkan penyebabnya adalah
sistem interaksi, proses belajar yang
terjadi, sifat pengajaran dari guru, sifat
materi pelajaran, faktor genetik dan
pengembangan pribadi. Hal ini
menunjukkan bahwa ada tumpang tindih
antara berbagai kendala, karena sifat
kompleksnya pembangunan pengetahuan
tersebut.
Diungkapkan oleh Brousseau (1997)
bahwa siswa secara alamiah mengalami
situasi yang dinamakan hambatan belajar
(learning obstacle) dengan faktor
penyebab: hambatan ontogeni (kesiapan
mental belajar), didaktik (akibat
pengajaran guru) dan epistimologi
(pengetahuan siswa yang memiliki
konteks aplikasi yang terbatas).

Pemecahan Masalah
Holmes (1995:37) menyatakan bahwa
pada intinya strategi umum memecahkan
masalah yang terkenal adalah strategi
Polya, yaitu empat langkah rencana
pemecahan masalah yang berguna baik
untuk problem rutin maupun nonrutin.
Langkah-langkahnya yaitu: 1)
Memahami Masalah; 2) Membuat
rencana pemecahan masalah; 3)

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

79

Melaksanakan rencana pemecahan
masalah; dan 4) Melihat (mengecek) ke
belakang.

Analisis Learning Obstacle pada
Pembelajaran Pemecahan Masalah
Operasi Penjumlahan Pecahan

Diungkapkan oleh Brousseau (1997)
bahwa siswa secara alamiah mengalami
situasi yang dinamakan hambatan belajar
(learning obstacle) dengan faktor
penyebab: hambatan ontogeni (kesiapan
mental belajar), didaktik (akibat
pengajaran guru) dan epistimologi
(pengetahuan siswa yang memiliki
konteks aplikasi yang terbatas).
1. Hambatan Ontogeni (kesiapan mental
belajar),
Kesiapan mental siswa dalam belajar
sangat mempengaruhi dalam terciptanya
mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa
adanya kesiapan mental maka
pembelajaran yang akan diterima siswa
tidak bisa terserap secara maksmimal.
Semua materi yang harus dikuasai siswa,
selain itu berbagai kegiatan lain yang
diselenggarakan di kelas juga akan
melatih berbagai macam keterampilan,
mengerjakan tugas sehingga
memungkinkan siswa memahami dan
menguasai materi pokok yang telah
diberikan. Agar kegiatan tersebut berjalan
lancar maka dibutuhkan kesiapan mental
belajar yang baik.
Gambaran pada kesiapan mental
belajar siswa berdasarkan observasi yang
penulis lakukan terdapat beberapa hal
yang menarik dapat diungkapkan.
Sebelum melakukan aktivitas belajar
siswa dalam kondisi yang fresh (segar)
untuk belajar. Untuk siap melakukan
aktivitas belajar kondisi psikis siswa juga
harus diperhatikan. Hal tergambar
kegiatan siswa di kelas banyak siswa
menurut penulis belum siap menerima
pembelajaran di kelas. Hal ini terjadi
karena masih banyak siswa yang
melakukan berbagai jenis kegiatan diluar
pembelajaran. Seperti saat diberikan
tugas siswa ada yang berusaha
mengerjakannya sendiri, namun terdapat
beberapa siswa yang melihat pekerjaan
temannya. Belum adanya koneksi antara
kesiapan mental mereka dengan materi
yang mereka pelajari yang menyebabkan
hal seperti itu terjadi.
Fakta lain yang dapat diungkapkan
dari observasi ini yaitu di kelas ini
terdapat salah satu siswa laki-laki yang
mengalami autisme. Siswa ini belum bisa
berkonsentrasi dengan baik. Pada saat
pembelajaran yang berlangsung siswa ini
sering keluar masuk kelas. Saat guru
menyampaikan pembelajaran kurang bisa
memfokuskan perhatiannya terhadap
guru, dan selama proses pembelajaran
terjadi kegaduhan di tempat ia duduk.
2. Hambatan Didaktik (akibat
pengajaran guru)
Guru bisa menjadi salah satu faktor
penyebab munculnya hambatan belajar.
Misalnya pada awal pembelajaran operasi
penjumlahan pecahan guru melakukan
pembagian kelompok dengan sebuah
game unik. Guru membagikan kartu
pecahan kepada masing-masing siswa.
Siswa yang mendapat pecahan yang
senilai akan berada pada satu kelompok.
Masing-masing kelompok akan duduk
diurut dari pecahan yang terkecil hingga
ke pecahan yang terbesar. Hal ini sangat
menarik karena siswa diberi kesempatan
untuk mengulang materi pembelajaran
yang lama dengan menyelesaikan
pecahan senilai. Selain itu siswa juga

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

80

melakukan pengurutan pecahan. Namun,
setelah observer mengamati terdapat
beberapa siswa yang belum bisa mencari
teman yang mempunyai pecahan senilai
dengannya dalam waktu 2 menit yang
diberikan. Sehingga pada akhirnya
banyak intervensi guru membantu siswa
untuk duduk pada kelompoknya dengan
pecahan senilai. Selain itu untuk
pembagian kelompok seperti ini cukup
memakan waktu.
Hambatan belajar lain yang muncul
adalah ketika siswa menghadapi
permasalahan yang berkaitan dengan
operasi penjumlahan pecahan. Minimnya
ragam masalah yang disajikan oleh guru
berdampak pada minimnya cara berpikir
siswa untuk mengatasi persoalan yang
mungkin muncul berkaitan dengan
operasi penjumlahan pecahan.
Kompetensi yang dingi ddicapai
pada materi kali ini adalah siswa mampu
melakukan operasi penjumlahan pecahan
dengan menggunakan 4 langkah
pemecahan masalah. Namun, guru tidak
menjelaskan bahwa kita akan
menyelesaikan masalah ini dengan
strategi pemecahan masalah. Padahal hal
tersebut penting agar siswa apabila
menemukan soal pemecahan masalah
lainnya dapat mengerjakannya dengan
benar, sesuai dengan langkah-langkah
yang telah ada. Selain itu, pada saat
pembelajaran berlangsung tidak semua
langkah yang dapat diwujudkan guru
dalam pembelajaran ini. Hal ini terjadi
karena keterbatasan waktu, sehingga
hanya tiga langkah saja yang dapat
dilaksanakan yaitu, pahami masalah,
merencakan strategi penyelesaian, dan
melaksanakan rencana. Untuk langkah
keempat yaitu memeriksa kembali
jawaban belum bisa terlaksana.
Pada saat menyelesaikan masalah ini
banyak siswa yang bingung untuk
menyelesaikannya. Hal ini menurut
penulis terjadi karena instruksi dari guru
yang kurang tepat dan cenderung
membingungkan siswa. Siswa tidak
diberikan lembar kegiatan siswa sebagai
penuntun dalam pembelajaran operasi
penjumlahan pecahan ini. Sehingga pada
akhirnya banyak siswa yang bertanya-
tanya apa yang harus dilakukan dan
tindakan apa yang diambil dalam
menyelesaikan permasalahan ini.
Akibatnya guru pada akhirnya banyak
memberikan intervensi pada setiap
kelompok dalam menyelesaikan tugas
mereka.
Guru berusaha mewujudkan apa
dituntut oleh Kurikulum 2013 sesuai
dengan langkah pembelajaran yang telah
ada di buku guru. Kegiatan pembelajaran
ini tertuang dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah disusun guru.
Guru menjelaskan RPP yang disusun
berdasarkan langkah-langkah
pembelajaran yang tertera pada guru.
Namun, jika kita memahami RPP yang
dibuat terdapat beberapa perbedaan yang
dilakukan oleh guru. Seperti pada awal
pembelajaran matematika dalam
pembagian kelompok guru memberikan
suatu game pecahan senilai. Langkah ini
tidak tertuang dalam rencana pelaksanaan
pembelajaran yang telah dibuat.
Beberapa langkah pembelajaran yang
tertera dalam RPP tidak dilaksanakan
oleh guru. Guru menjelaskan sedikit
memodifikasi langkah pembelajaran yang
ada pada buku siswa dan guru agar siswa
lebih mudah menerima pembelajaran
karena masalah yang diberikan pada buku
siswa tidak mudah dicerna oleh siswa.
Namun, tetap pada pelaksanaannya siswa

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

81

tetap bertanya-tanya saat mengerjakan
tugas karena tujuan sebenarnya dari
menyelesaikan permasalahan matematika
yang telah diberikan.
Beberapa langkah penutupan ada
yang tidak terlaksana dan adanya
penambahan kegiatan dari guru dalam
pembagian kelompok. Untuk
pembelajaran pemecahan masalah operasi
hitung sendiri juga ada yang belum
terlaksana seperti memeriksa kembali
jawaban. Serta membuat kolase pecahan
belum sempat teralisasi oleh para siswa.
Suasana selama pembelajaran
berlangsung menurut yang diamati tidak
terlalu tertib. Saat pembelajaran guru
sering menghimbau siswanya untuk tetap
tenang dan mendengarkan guru saat
menjelaskan. Beberapa siswa yang
berada di belakang kelas tidak terpantau
oleh guru, karena jarangnya guru
berkeliling selama pembelajaran
berlangsung.
Pembelajaran matematika ini
berlangsung dengan menggunakan
kurikulum 2013. Menurut pandangan
penulis, proses pembelajaran yang
dilaksanakan oleh guru lebih
mengedepankan bagaimana cara
pembelajaran yang ada di buku guru dan
siswa dapat terlaksana. Sehingga aspek
penting seperti penguatan terhadap materi
yang diajarkan tidak diberikan kepada
siswa.
3. Hambatan Epistimologi
(pengetahuan siswa yang memiliki
konteks aplikasi yang terbatas).
Pembelajaran matematika tentang
operasi penjumlahan pecahan dengan
menggunakan pemecahan masalah hanya
bisa dilakukan pada tahap ini karena
keterbatasan waktu. Dari kegaitan
pembelajaran yang dilaksanakan terdapat
beberapa hambatan yang dialami oleh
siswa yaitu :
a. Hambatan belajar terkait konteks
variasi informasi masalah yang ada
pada soal yang akan dipecahkan.
Siswa kurang bisa memahami soal
yang diberikan oleh guru karena
permasalahan tidak diberikan secara jelas
kepada siswa. Sehingga dalam fase
pemecahan masalah yang pertama yaitu
memahami masalah siswa tidak dapat
melaksanakannya dengan baik. Banyak
pertanyaan kepada guru bagaimana
langkah yang akan diambil untuk
menemukan penjumlahan tiga pecahan
yang nantinya harus menghasilkan nilai
satu.
b. Hamabatan belajar terkait prosedur
pelaksanaan pemecahan masalah.
Karena pemahaman masalah yang
tidak dilakukan secara benar, siswa
banyak tidak tahu rencana apa yang
akan disusun untuk memperoleh
jawaban tersebut.
c. Hambatan belajar terkait dengan
kemampuan siswa dalam melakukan
masalah.
Jawaban yang dihasilkan siswa
bervariasi satu dengan yang lainnya.
Dari penjumlahan ketiga pecahan
tersebut. Mereka mencari dengan cara
trial and error atau mencoba-coba.
Mereke mencoba satupersatu untuk
menemukan nilai 3 pecahan yang
nantinya akan menghasilkan enam per
enam
d. Hambatan belajar terkait dimana akan
menyelesaikan masalah karena tidak
diberikan/difasilitasi dengan LKS.
Untuk melakukan prosedur
pemecahan masalah siswa tidak
dibimbing dengan pemberian LKS
oleh guru. Sehingga, banyak timbul

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

82

pertanyaan-pertanyaan yang
seharusnya bisa dikurangi dengan
memberikan LKS. Siswa binggung
untuk melaksanakan tugas mereka,
sehingga guru meminta siswa untuk
menuliskan jawaban pada bagian
karton yang kosong. Padahal untuk
melakukan percobaan ini butuh
tempat yang cukup agar siswa lebih
leluasa dalam menuliskan
penjumlahan dengan cara mencoba-
coba.
e. Hambatan belajar siswa kurang
dilatihkan dengan teknik mencoba
berbagai alterlnatif cara untuk
memporeleh nilai 1 dari penjumlahan
beberapa pecahan.
f. Hambatan terbatasnya waktu
pembelajaran. Hal ini berakibat tidak
bisa memberikan contoh lain kepada
siswa tentang penjumlahan ini. selain
itu, banyak langkah kegiatan
pembelajaran yang tidak terlaksana.
Untuk langkah pemecahan masalah
yang keempat yaitu memeriksa
kembali tidak terlaksana karena
waktu yang terbatas. Selain itu siswa
tidak bisa mengungkapkan alasan
mereka kenapa melakukan
penyelesaian masalah dengan langkah
yang mereka pilih.

Lesson Plan Pemecahan Masalah
Penjumlahan Pecahan
Di dalam kelas, kebutuhan seluruh
siswa, apapun level kemampuan mereka,
adalah hal yang sama-sama penting. Pada
setiap hari mengajar di kelas, guru dapat
melayani untuk kemampuan siswa yang
berbeda-beda asal saja dengan siswa
diberikan aktivitas yang berbeda-beda
dan tugas dinilai menurut tingkat
kesulitan sehingga siswa dapat bekerja
pada latihan-latihan yang cocok dengan
kemajuan belajar mereka. Beberapa siswa
mungkin hanya dapat terlibat dalam
kegiatan lebih terbuka dan menantang.
Pemilihan dan penetapan kegiatan yang
sesuai dengan kemampuan siswa akan
memperkuat dan menopang ketertarikan
mereka dalam belajar.
Pada rancangan pelaksanaan
pembelajaran ini, dimungkinkan siswa
untuk menggambar, memberikan
penjelasan verbal, menulis kalimat
perkalian, menerapkan algoritma. Guru
dapat memberikan siswa dengan berbagai
cara dan gaya yang berbeda dari motivasi
selama kelas.
Dalam berinteraksi dengan seluruh
kelas, guru dapat menggunakan
pertanyaan efektif dan inklusif.
Pertanyaan dapat dipasang pada tingkat
yang berbeda dan dapat bergerak dari
pertanyaan dasar ke yang bersifat tatanan
yang lebih tinggi. Pada suatu waktu siswa
mungkin akan diminta untuk menyusun
pertanyaan sendiri atau untuk melihat
apakah mereka bisa membuat dengan
pertanyaan alternatif untuk salah satu
mereka mungkin telah diminta.
Selain mengajar seluruh kelas, guru
dapat mempertimbangkan strategi
pengelompokan yang berbeda, seperti
sebagai kelompok dan pasangan kerja
untuk mendorong interaksi siswa,
membantu siswa untuk pemahaman
verbal matematika dan membantu
membangun kepercayaan diri dan
pemahaman matematika siswa. Sebagai
contoh, dalam rancangan ini siswa
diminta untuk bekerja berkelompok
untuk membuat sebuah pola dengan
balok pecahan yang dapat digunakan
untuk penjumlahan pecahan, mencari
solusi dan dan bertukar pertanyaan

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

83

mereka dengan pasangan lain, mereka
kemudian dapat diminta untuk
membandingkan jawaban.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari
penelitian ini adalah, dalam pembelajaran
matematika untuk pemecahan masalah
operasi penjumlahan pecahan siswa
mengalami hambatan sebagai berikut
1. Hambatan Ontogeni (kesiapan mental
belajar)
a. Belum adanya koneksi antara
kesiapan mental mereka dengan
materi yang mereka pelajari yang
menyebabkan hal seperti itu terjadi.
b. Beberapa orang siswa yang belum
berkonsentrasi pada pembelajaran.
2. Hambatan Didaktik (akibat
pengajaran guru)
a. Pembagian waktu pembelajaran yang
kurang
b. Tidak menyediakan lembar kegiatan
siswa dalam pembelajaran
c. Minimnya ragam masalah yang
diberikan oleh guru
d. Tidak terlaksananya semua langkah
yang ada di RPP, bahkan berbeda
dengan RPP
3. Hambatan Epistimologi
(pengetahuan siswa yang memiliki
konteks aplikasi yang terbatas).
a. Hambatan belajar terkait konteks
variasi informasi masalah yang ada
pada soal yang akan dipecahkan.
b. Hambatan belajar terkait prosedur
pelaksanaan pemecahan masalah.
c. Hambatan belajar terkait dengan
kemampuan siswa dalam melakukan
masalah.
d. Hambatan belajar terkait dimana akan
menyelesaikan masalah karena tidak
diberikan/difasilitasi dengan LKS.
e. Hambatan belajar siswa kurang
dilatihkan dengan teknik mencoba
berbagai alterlnatif cara untuk
memporeleh nilai 1 dari penjumlahan
beberapa pecahan.Hambatan
terbatasnya waktu pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Brousseau, G. (1997). Theory of
didactical situations (N. Balacheff, M.
Cooper, R. Sutherland, V. Warfield
Eds & Trans). Dordrecht, Netherland:
Kluwer Academic
Cornu, B. (1991). Limit In 30/05/2012.O.
Tall (Ed), Advanced Mathematical
Thinking (pp. 153-166). Dordrecht :
Kluwer Academic Publisher
Holmes, Emma E.(1995). New Directions
in Elementary School Mathematics-
Interactive Teaching and Learning.
New Yersey: A simon and Schuster
Company.
NCTM. (2000). Principle and Standard
for School Mathematics. Reston,
Virginia: The National Council of
Mathematics of Teacher of
Mathematics, Inc.
Polya, G. (1985). How To Solve It : A
New Aspect of Mathematics Method
(second edition). Princenton, New
Jersey : Pricenton University Press.
Ruseffendi, E. T., (1991). Pengantar
Kepada Membantu Guru
Mengembangkan Kompetensinya
dalam Pendidikan Matematika untuk
Meningkatkan CBSA. Bandung.

Jurnal Seuneubok Lada, Vol. 3, No.2, Juli – Desember 2016

84

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Victoria

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out
x

Hi!
I'm Jeremy!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out